Tampilkan postingan dengan label Kampusiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampusiana. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 April 2015

Deddy Menangkan Putusan Sela PTUN, Kemenag Sulit Dikonfirmasi

Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, Kamis (16/4) telah mengabulkan gugatan Deddy atas pihak Kemenag yang mengeluarkan SK pemberhentian jabatan rektor.

"Ya, bapak menang di putusan sela, dan SK (pemberhentian) itu sudah tidak berlaku lagi," ungkap Deddy seusai sidang, Kamis (16/4).

menurut Deddy SK pgs rektor pun sudah tidak berlaku dan sisa tugas rektor harus dikembalikan kepadanya. "Ya, sudah saatnya saya melanjutkan sisa tugas saya, menentukan panitia pemilihan calon rektor dan segalanya." tambahnya.

Dalam waktu dekat Deddy belum bisa kembali ke kampus karena masih ada hal yang harus diselesaikan.

Sementara itu, sejak putusan sela hingga diterbitkannya berita ini, tak satupun pihak Kemenag yang dapat dikonfirmasi.

Berdasarkan data yang dihimpun Suaka, putusan sela terjadi setelah ada gugatan dari terdakwa. Dalam hal ini terdakwa Deddy menggugat Kemenag yang mengeluarkan SK pemberhentian jabatannya.

Jika Hakim menerima gugatan Deddy, maka dakwaan dibatalkan. Artinya Deddy lepas dan tidak terbukti bersalah atas pelanggaran yang ditetapkan dalam SK oleh Kemenag.

Sebaliknya, jika Hakim menolak gugatan Deddy, maka dakwaan akan dilanjutkan sehinggaa pihak kemenaglah yang menang.

Selasa, 14 April 2015

Soal Sanksi Deddy, Biro Hukum Kemenag Bungkam

Kabiro Hukum Kemenag Achmad Gunaryo usai sosialisasi statuta baru Menteri Agama 2015 terkait pemilihan rektor, Kamis (9/4/2015).
Apapun sanksi yang ditetapkan  kepada Rektor UIN SGD Bandung Deddy Ismatullah, civitas kampus berhak mengetahuinya. pernyataan tersebut dilontarkan Asep Saepul Muhtadi kepada Biro Hukum Kemenag Achmad Gunaryo di kampus UIN, Kamis (9/4/2015).

"Kita (civitas kampus, Red-) adalah orang-orang yang punya hak untuk tahu, apalagi ini tentang pemimpin kita" jelasnya. Asep berpendapat seluruh masyarakat kampus mempunyai hak untuk mengetahui soal kejelasan pemberhentian rektor.

Achmad tidak memberi kejelasan soal sanksi. "dia (Achmad Gunaryo, Red-) gak memberi tahu ketika ditanya kenapa," ujar Guru Besar Ilmu Komunikasi itu.

Biro Hukum Kemenag yang menangani soal sanksi itu menjelaskan bahwa rektor tidak diberhentikan dari jabatan PNS melainkan dari jabatan rektor. sampai saat ini belum ada putusan yang tetap dari PTUN terkait pemberhentian Deddy.

"Jadi kita tunggu saja putusan yang pasti dari hasil sidang," paparnya usai sosialisasi statuta baru Menteri Agama 2015 terkait pemilihan rektor. Kamis (9/4/2015).

Tidak hanya Biro Hukum yang bungkam, Biro Kepegawaian dan Sekjen Kemenag pun tidak memberi kejelasan. "ini bukan kewenangan kami. kewenangan ada di Sekjen," ucap salah satu staf kepegawaian Kemenag yang enggan disebutkan namanya. Selasa (31/3/2015).

Saat Suaka mengonfirmasi kepada Sekjen Kemenag Nursyam, lantas menyarankan Suaka untuk menanyakan kembali ke kepegawaian Kemenag. "Soal itu tanyakan saja ke Biro Kepegawaian," jelasnya singkat, Selasa (31/3/2015).

Terkait SK pemberhentian rektor, Biro Hukum tidak terlibat mengenai hal tersebut. " Itu urusannya dengan Kepegawaian Kemenag. Kami baru terlibat ketika ada gugatan," jelas Ahmad.

Sementara itu, beberapa pihak kampus diduga mengetahui isi SK pemberhentian rektor. Terbukti dengan beredarnya selembaran yang memuat SK No. B.II/3/PDJ/00992, jenis pelanggaran Deddy dan pejabat lain yang diduga sama-sama melakukan pelanggaran.

Pada selembaran itu tercantum bahwa data didapat dari bagian Kepegawaian UIN Bandung. Namun saat dikonfirmasi, Kasubag Kepegawaian UIN SGD Bandung Deni Supiadi sama sekali tidak pernah memberikan data soal pemberhentian rektor kepada siapa pun. "Saya belum pernah menyerahkan data atau SK kepada siapapun," tandasnya, Senin (6/3/2015).

62 hari sejak diberhentikannya Deddy, Civitas akademika UIN tidak mengetahui jelas alasan diberhentikannya Deddy sebagai rektor.

Senin, 02 Maret 2015

Parkir bayar, Tanggung Jawab siapa?

Mesin Karcis UIN SGD Bandung.

Mahasiswa UIN SGD Bandung merasa dirugikan dengan diberlakukannya kebijakan parkir berbayar. Kebijakan tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab kampus untuk menyediakan parkiran karena telah diatur dalam Undang-undang.

"Parkir merupakan fasilitas yang harus disediakan oleh kampus tanpa memberatkan mahasiswa, tapi UIN kayaknya tidak mau bertanggung jawab dan malah memberatkan kami," ujar Mahasiswa Jurnalistik, Robby Darmawan, Senin (2/3/2015).

Sebenarnya telah disebutkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 45 bahwa setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan  sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional dan kejiwaan peserta didik.

Robby menambahkan bahwa kampus dinilai telah mengabaikan Undang-undang tersebut. "Undang-undang itu telah sah secara hukum tapi UIN tidak mengikutinya." ungkapnya.

Berlakunya parkir berbayar bertujuan menertibkan kondisi parkir kendaraan yang sebelumnya semrawut. Kabag Umum Fathujaman mengatakan penghasilan dari parkir rencananya akan dianggarkan untuk pembelian lahan parkir. "Rencananya lahan yang di sebelah timur kampus yang akan kita beli nanti." ungkapnya. Selain itu, mahasiswa juga dijaminkan asuransi kendaraan selama berlakuknya parkir berbayar.

menyikapi hal ini, Robby tetap mempertanyakan tanggung jawab kampus. "Saya harap ini tak lama dan segera menggratiskan parkir." Paparnya di Gedung Z Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Dede Lukman Hakim (2/3/2015).

Selasa, 26 Agustus 2014

Buka Fakultas Kedokteran, Mau Cetak Lulusan Seperti Apa?



Kampus UIN SGD Bandung sedang gencarnya mengkonstruksi bangunan sejak Deddy Ismatullah menjabat sebagai rektor periode 2011-2015. Tak lama proyek pertama pembangunan selesai kini sudah disibukkan lagi dengan perencanaan pendirian Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Pendidikan. “2015 kita upayakan sudah di mulai pembangunan, tapi itu tergantung. Kalo sumber pendanaan dari negara, itu tergantung kesiapan negara apakah di 2015 mengalokasikan dananya atau tidak”. Ucap Najib selaku ketua tim pembangunan Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Pendidikan. Tetapi yang menjadi fokus utamanya adalah akan mencetak dokter seperti apa UIN ini.

Seorang pria duduk di depan sebuah swalayan di Jalan Pasteur, Kota Bandung.  Rambut beruban menutupi setengah kepalanya. Usianya 58 Tahun. Dia mengenakan baju batik dan celana katun, kedua tangannya menggenggam handphone. Ketika disapa, tangannya menyambut untuk bersalaman kemudian menyodorkan kartu nama bertuliskan Suherman, dr.MKM, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Daerah (Arsada) Jawa Barat periode 2014-2017. 

Matahari tak nampak sepenuhnya, angin sedikit kencang dengan sedikit hujan. Menunda perbincangan kami menyoal Fakultas Kedokteran UIN SGD Bandung akan mencetak dokter seperti apa nantinya. Sambil pindah tempat, lelaki asal Sukabumi itu  menenteng lima dokumen  dari mobilnya.

Di Satu meja tiga kursi di dalam swalayan, ketua Arsada itu menunjukkan dokumen yang di bawanya. “Saya mendapat mandat dari pak rektor dengan surat tugas nomor: Un.05/II.2/Kp.07.1/709/2014 jadi saya bertugas dari rancang bangun sampai pada nanti pelaksanaan sampai pada segala macem. Kita membangun Fakultas Kedokteran yang bertaraf internasional, maksudnya kita mengiblat pada islam yang kuat”. Ungkapnya sambil menunjukkan Surat Tugas dari Rektor  UIN SGD Bandung.

Empat dokumen lainnya berkaitan dengan rencana pengerjaan pendirian Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Pendidikan. Butuh ratusan juta untuk membuat dokumen tersebut. Suherman dan timnya justru tidak memungut sepeserpun kepada siapapun. Alasan kemanusiaanlah mengapa dia siap membantu pendirian proyek ini hingga selesai.

Keempat dokumen itu berupa Feasibility Studi Fakultas Kedokteran UIN SGD Bandung, Feasibility Study Rumah Sakit, Masterplan Rumah Sakit UIN SGD Bandung dan Architecture Strategies Teaching Hospital Development. “Persiapan sudah jauh, saya nyiapin Rumah Sakitnya dulu yang dibangun di atas tanah 29 ha, 10 ha untuk Rumah Sakit dan Fakultas Kerdokteran”. Paparnya menggebu.

Sekelumit kekhawatiran pendirian Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Pendidikan dengan adanya fenomena dokter yang tidak profesional. Suherman pun mengamini fenomena tersebut. Sebetulnya ada satu yang melatar belakangi secara filosofis kenapa UIN akan mendirikan Fakultas Kedokteran.

Satu kekhawatiran melihat fenomena dokter di Indonesia yang oleh sementara pihak dipandang tidak lagi melaksanakan profesinya secara kemanusiaan. Lebih banyak mengedepankan aspek-aspek ekonomi. “Contohnya, dokter sekarang ingin dibayar mahal dengan pelayanan tidak dalam kapasitas ramah tamah sebagaimana tabib zaman dahulu, ada perbedaan orientasi dan tidak lagi memikirkan aspek kemanusiaan”. Tambahnya.

 “Jadi itu ada satu kecenderungan, malah terakhir data di dunia mengatakan bahwa komunikasi pasien dokter itu menjadi tidak baik, not well inform jadi pasien tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang masalah-masalah kesehatan yang dihadapi oleh pasien itu”. Ungkap Suherman.

From Quran To Science

Semakin sore saja. pengunjung swalayan semakin ramai, semakin berisik. Dengan spontan Suherman meninggikan suaranya. Sejarah mengatakan islam pernah mencapai satu kejayaan dari masa Rasul sampai Khalifah. Dokter pada masa itu  konsepnya benar-benar untuk kemanusiaan. Nampak jelas ada perbedaan orientasi dalam hal ini. Perbedaan tersebut menjadi satu diskusi antara Suherman dengan rektor.

UIN memiliki karakteristik khusus, yaitu islam. Suherman melihat ada satu titik kesamaan pemikiran dengan rektor, “jadi bagaimana dokter ini nanti harus dipersiapkan sedemikian rupa. Harus dilakukan pergeseran paradigma, dimana dokter itu harus dipersiapkan dari satu titik. Pak rektor menyebutkan ada satu saja solusinya dan itu saya setujui, yaitu mahasiswa yang mau masuk kedokteran UIN  harus hafiz (penghafal. Red-) quran minimal lima juz”. Pungkas Suherman.

Alquran berkonsep science. Sebetulnya ilmu-ilmu kedokteran telah ada dalam alquran. “jadi saya nyebutnya itu from quran to science, from science to quran. Sebenarnya kalau ada ilmu kedokteran baru itu sudah ada dalam alquran sejak empat belas abad silam. Inilah konsep yang saya sebut orang-orang ulilalbab (orang yang tidurnya, bangunya segala sesuatunya selalu berpikir tentang kekuasaan Tuhan). Itu yang membedakannya”. Tuturnya lagi.

Membuat satu loncatan ke depan adalah PR kampus ini. Mencetak dokter yang mumpuni melakukan perubahan lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Oleh karena itu, Fakultas Kedokteran UIN SGD Bandung didirikan dengan karakteristik yang berbeda dengan Fakultas Kedokteran yang ada, baik Fakultas Kedokteran di universitas umum maupun di universitas islam lain yang tidak mencantumkan kekhasan hafiz quran. Itulah yang menjadi satu titik poin persyaratan pembangunan Fakultas Kedokteran ini.

Dokter yang akan melakukan pengubahan lima atau sepuluh tahun mendatang harus melalui pendidikan yang benar. Dimulai dari lulusan-lulusan SMA yang hafiz quran minimal lima juz. Alasannya menurut Suherman, “mungkin sebagian orang menganggap menjadi dokter itu susah, tapi saya bilang enggak! Kalo orang hapal quran, pasti ilmu apapun gampang, jadi itu persyaratannya”.

Suherman berharap begitu mereka lulus dan menjadi dokter, mereka sudah hafal quran 30 juz. “jadi ilmu keagamaannya kuat karena sudah hafiz quran kemudian ilmu kedokterannya kuat, bayangin orang seperti itu akan seperti apa nantinya”. Inilah yg akan memperbaiki generasi lima atau sepuluh tahun yang akan datang.

“Kalo mereka hafiz quran tentu mereka menjadi generasi yang rabani (bersifat ketuhanan), yang selalu mencintai, membaca, menghafal, mengerti dan mengamalkan alquran. Jadi luar biasa konsep itu” Paparnya. Ini dianggapnya penting karena jika tauhidiyahnya salah kesananya pun salah. Karenanya UIN akan meluruskan segi tauhidiyahnya terlebih dahulu, karena tauhidaiyah berkaitan dengan kemakrifatan. Itu akan dikonstruksikan dengan baik.

Butuh Cara Distingtif

Kita rancang lulusan kedokteran UIN yang bisa memenuhi kualifikasi, kompetensi dan memiliki kemampuan manajemen. Dalam hal ini dokter dituntut memiliki kemampuan lain, misalnya manajemen kesehatan dan manajemen pelayanan kesehatan. Toh sekarang masyarakat bukan hanya butuh kesehatannya saja, pun manajemen pelayanannya. Itu yang sedang diusahakan dengan kompetensi yang mencakup seluruh kebutuhan, tidak hanya terfokus pada kedokterannya.

Kompetensi utama yaitu kedokteran harus tetap terpenuhi. Di samping juga ada kompetensi penunjang agar memiliki kemampuan manajemen pelayanan kesehatan. “dalam manajemen itu terakumulasi berbagai keahlian, ada Akuntansi, Keuangan, IT, Tata Ruang, lingkungan dan pengolahan limbah” tanggap Najib.

“Kalau dia hanya sekedar dokter dan tidak memiliki kemampuan manajemen, kemungkinan  dia malah sekadar cari-cari kerja, sebab sekarang dokter itu harus ada tempat praktiknya” Najib mencontohkan.

UIN merancang output dari Fakultas Kedokteran yang memiliki kelebihan dibanding dengan lulusan Fakultas Kedokteran yang lain. Diantaranya adalah sarjana kedokteran yang diharapkan bukan sekadar bisa berpikir dan bisa berorientasi bagaimana bisa bekerja di tempat-tempat layanan kesehatan. Mereka harus berpikir bahwa ilmunya bisa digunakan untuk berdakwah dan memberikan pelayanan pada masyarakat, untuk mengabdi kepada masyarakat.

Tidak hanya bekerja kemudian mendapat uang banyak. Profesi dokter dianggap menjanjikan dan bisa mendatangkan uang banyak. “Sementara rizki itu alloh yang  mengaturnya” kata Najib. Lebih dari itu mereka berfungsi mengabdi dan menyehatkan masyarakat, tidak hanya di kota atau desa, di daerah rawan pun harus siap. Disitulah kelebihannya.



Integritas yang dimiliki tidak hanya tentang keilmuan dan profesi saja, melainkan integritas nilai keislamannya. Bagaimana bisa berdakwah dengan ilmu kedokterannya, bagaimana dia memotivasikan keahliannya untuk mengabdi kpada masyarakat. “kalau perlu masyarakat miskin itu jangan sampai dibebani lagi dengan berpikir uang, nantinya malah jadi tambah sakit. Mestinya setiap orang sakit masuk situ persoalan anggaran jangan dia yang mikir, bisa keluarganya, tetangganya, atau lembaga sosial atau juga pemerintah, atau memang rumah sakitnya sendiri yg memikirkan” harap Wakil Rektor IV itu.

Mereka dirancang seperti itu. UIN harus bisa mencetak sarjana kedokteran yang memiliki keunggulan dan kelebihan seperti itu. Jangan sampai sama saja dokter lulusan UIN dengan dokter lulusan universitas lain.

Untuk tenaga pengajar, Suherman menambahkan, “Saya alumni unpad dan akan membuat tim dokter-dokter dari unpad yang islamnya kuat, nanti mungkin dari mana-mana, tapi untuk inisiator kita ngambil dokter dari unpad yang basis islmanya kuat”.

Mahasiswa lulusan Fakultas Kedokteran UIN memiliki jati diri yang berbeda dibandingkan dengan dokter-dokter lain. Karena mereka sudah mengintegrasikan ilmu-ilmu alquran dalam praktek kedokterannya. “selain tiu dia akan menjadi rahmat bagi dirinya, keluarganya dan bagi masyarakat, menjadi agent of development” harapnya diakhir perbincangan.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Tumbangkan 13 Lawan, Robo UIN Juarai PRC



Endah Kinarya (kiri) dan Hanif (kanan), dua dari lima anggota Robotika yang memenangkan perlombaan Parahyangan Robotic Competition (PRC), (16/8/2014). (Foto : Dede Lukman Hakim)

Komunitas yang menamakan dirinya “Robotika” Fakultas Sain dan Tekhnologi UIN SGD Bandung memenangkan kompetisi robot dalam Parahyangan Robotic Competition (PRC) di Kota Baru Parahyangan Padalarang, Bandung, tiga hari yang lalu. Minimnya biaya tak jadi kendala Robotika menciptakan Robo UIN.  Dengan Robo UINnya kalahkan 13 pesaing dari berbagai kota kategori Underwater Robot tingkat nasional. Selasa 19/8/2014.

Kantin mahad UIN SGD Bandung lengang pengunjung. Ada empat pengunjung sekadar duduk tanpa memesan makanan. Dua diantara mereka adalah Endah Kinarya dan Hanif anggota Robotika yang menjuarai PRC tingkat nasional pada 16/8/2014.

Autaran pertandingan, robot harus memindahkan mur melalui track yang dipasang rintangan. Karena banyak dari peserta yang tidak mampu memindahkan mur itu maka aturan diubah menjadi seberapa jauh robot bisa melewati rintangan itu.

Robo UIN yang diciptakan oleh enam orang yakni Endah Kinarya, Hanif, Dian Permana, Faisal dan Hikmadi terbuat dari bahan bekas berupa botol plastik, paku, kaca plastik dan propeler ditentengnya menuju arena pertandingan. Pertandingan dilaksanakan tiga sesi, “Penilaiannya dari sesi pertama, awal di cemplungin baru ada reaksi, beberapa detik kemudian tenggelam langsung, gak mau gerak dan mogok,” keluh Endah tersenyum. “Ternyata robot terlalu berat , jadi kita langsung bongkar, karena awalnya takut mengambang jadi dikasih pemberat berupa satu trafo dan ternyata terlalu berat. Kemudian kita ganti dengan dua dynamo kecil” tambah Hanif.

Sesi kedua, Robo UIN mengalami perkembangan dan bisa maju beberapa jarak melewati rintangan . “Pas selesai sesi kedua ada air yang masuk, abis itu langsung dikeluarin, abis itu kita ubah teknik aja, Jika sesi pertama dan kedua mengaktifkan magnetnya ketika di dalam air, di sesi ke tiga mengaktifkan magnetnya sebelum robot dimasukkan ke air baru deh airnya gak masuk lagi” imbuh Endah.

Akhirnya Robo UIN berhasil menempuh jarak sekitar 1,5 meter dan berhasil menumbangkan 13 robot elit lainnya.

Biasa tapi Luar Biasa

“Kalo dilihat sepintas secara fisik ini unik, soalnya dari sekian robot yang dilombakan tidak ada robot yang seperti ini, memanfaatkan barang bekas” ungkap Endah.

Karena Robo UIN untuk kategori Underwater Robot, jadi dibuat dengan tiga motor, tiga propeler. Pemproses datanya menggunakan microphone stroller arduino. Sementara untuk pengendalinya digunakan aplikasi App Inventor disambung ke Bluetooth dan dioperasikan melalui Android.

“Kita satu-satunya peserta yang menggunakan Android untuk mengontrol robot, sementara peserta lain menggunakan remot kontrol. Tetapi ada juga yang gak pake remot dari ITB, dia mengaktifkan robot secara otomatis” pungkasnya lagi.

Fungsi robot ini memindahkan mur dan merupakan miniatur, realisasinya “jika ada musibah pesawat jatuh ke laut bisa diangkat oleh robot dengan fungsi seperti ini” tambah Endah.

Ini kali keempatnya Robotika mengikuti perlombaan tingkat nasional setelah tiga tahun kebelakang tidak mengikuti lomba. Tiga kali Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan pada 2008-2010 dan kemarin yang keempat diselenggarakan oleh PRC. Vakumnya dari perlombaan disebabkan adanya kebijakan baru Dinas Pendidikan pada 2011 bahwa perguruan tinggi di bawah Depag termasuk UIN SGD Bandung tidak diperbolehkan ikut KRCI.

Walaupun minim dana mereka tetap optimis. Dana didapat dari senat dan uang saku mereka sendiri. “sebetulnya biaya ada cuma minin. Kita ngajuin dana ke Depag cuma dikasih gocap. Kita sharing dengan mereka (peserta lain. Red-) dan mereka emang mendapatkan support dana dari universitas, bahkan rata-rata mereka beli robot yang sudah jadi, terus dirakit sendiri dikasih tambahan-tambahan gitu” tutur Endah.

Sampai berita ini dinaikkan, Rektor Deddy Ismatullah belum mengetahui tentang kemenangan ini, padahal ini tinggkat nasional yang diikuti oleh SD hingga Perguruan Tinggi.

Rabu, 13 Agustus 2014

Langkah Awal Dirikan Prodi Baru



Rancangan kurikulum 2014-2019 Jurusan Bimbingan Konseling Islam. (Foto : Dede Lukman Hakim)

Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung menerapkan sistem pembidangan peminatan. Sistem ini dirancang dalam Skema Kurikulum  2014-2019. Sistem Bebasis Mutu lulusan (out come) itu mengubah peminatan pada kurikulum 2009-2014. Mulanya ada empat peminatan, yaitu pendidikan, narkoba, sosial dan penyuluhan KB menjadi tiga peminatan, berupa Bimbingan Konseling Penyuluhan (BKP) Keagamaan, Bimbingan Konseling Kependidikan dan BKP Kemasyarakatan. (8/8/2014).

Keputusan ini hasil dari revisi usulan, revisi kurikulum dan membutuhkan pendalaman. Salah satunya dengan memperbanyak matakuliah yangg dibutuhkan. “jadi ada beberapa matakuliah yang dikelompokkan menjadi tiga bidang peminatan dan berlaku untuk mahasiswa semester VI sebagai persiapan Praktik Profesi Mahasiswa (PPM)”. Ucap Aep Kusnawan, Kajur BKI pada 8/8/2014.

Mahasiswa diseleksi untuk memilih salah satu diantara ketiga peminatan tersebut ketika menginjak smester VI . Ada seleksi langsung dan tidak langsung. Seleksi tidak langsung yaitu dengan memonitor prestasi matakuliah yang bersangkutan pada smester satu sampai lima dengan peminatan yang dipilih. Jika mahasiswa memilih peminatan keagamaan, tetapi prestasi mata kuliah keagamaan semester satu sampai lima tidak proporsional melainkan lebih condong ke pendidikan, maka mereka akan diarahkan ke pendidikan.

Seleksi langsungnya dilihat dari karakter mahasiswa, “kebetulan BKI mengadakan test psikologi bimbingan karir. Jadi salah satu caranya menggunakan test ini. Nanti dibagi angket untuk diisi mahasiswa bertujuan mengetahui kemana cocoknya. Hasilnya akan dipadukan dengan seleksi tidak langsung” tambahnya.

Awal smester mahasiswa 2014 akan diinformasikan bahwa ada 3 peminatan yang harus dipilih di smester VI. Mahasiswa dipersilahkah memilih satu peminatan dan dipersiapkan sejak semester satu. Minimal matakuliah yang berhubungan dengan peminatan harus selalu menonjol.

Adanya peminatan ini, diharapkan mahasiswa lebih fokus terhadap kedalaman keilmuannya. Semakin terampil dengan keahliannya, dan semakin PD dengan kemampuannya. PD dalam arti mampu ketika dibutuhkan oleh siapa saja ketika dia lulus.

Sementara kondisi mahasiswa BKI sekarang masih dirasa membutuhkan suatu pendalaman terhadap  beberapa keilmuan  yang dirasas penting. “contohnya, seperti yang mau ke sekolah, karena mereka masih minim tentang seluk beluk kesekolahan dan itu tidak tercover oleh satu mata kuliah, seperti menyusun RPP, pembelajaran administrasi bimbingan konselingnya dan pemprogramannya” pungkas Aep.

Ada memang mata kuliahnya yaitu manajemen BKI, namun bahasannya meluas. Tidak hanya sekolah cakupannya, ada manajemen di Rumah Sakit, manajemen di TNI dan POLRI. Karena itulah mereka membutuhkan yang lebih mendalam. Konsekuensinya, Kajur BKI itu menambahkan “dengan adanya konsentrasi ini otomatis akan menyempitkan peluang, yang tadinya mengambil BK keagamaann mungkin ke sekolah agak beda karena mata kuliahnya banyak tentang keagamaan tidak ada kependidikan, begitupun peminatan lainnya. Tapi dengan peminatan tersebut ilmu bisa semakin menyubur, karena sifat ilmu ada yang meluas ada yang menyubur”.

Memang belum ada SKnya karena baru rancangan, tapi proses terus bergulir. Dekan pada dasarnya sudah memberi kesempatan. “Sebetulnya ada hak jurusan membuka prodi, hanya itu terkait dengan berbagai pihak. Kita tidak terburu-buru,  kita jejaki dulu step-stepnya dengan persiapan awal, dengan cara memberikan ruang kepada mahasiswa, pengajar dan stake holder” ungkapnya mengakhiri perbincangan.

Apakah tiga peminatan ini langkah awal membuka prodi baru jurusan BKI?
suakaonline.com

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com