 |
| Agus Hasanudin (Kang Gugus), pendiri Komunitas Topi Bambu memegang
piagam penghargaan Rekor Muri berkat jasanya membudidayakan kembali
kerajinan berbahan dasar bambu. Senin 30/6/2014. (Foto: Dede Lukman Hakim) |
Cuaca
lembab tidak menghentikan Agung datang ke galery di pinggir Jalan Raya Serang
KM 15, RT 01/01 No. 170, Desa Cikupa, Kec. Cikupa, Kab. Tangerang -
Banten. Lelaki yang acapkali dipanggil “Begeng” itu seorang anggota komunitas
topi bambu sekaligus mahasiswa. Bersama temannya menggerilyakan kerajinan yang
terbuat dari bambu. Berusaha mengembalikan keberadaan topi bambu yang hampir
punah sebagai ciri khas Kabupaten Tangerang. Di dalam galery, puluhan topi
bambu berbagai jenis dan ukuran bertengger di tembok. Ada juga yang dijajakkan
di atas meja menemani obrolan kami menyoal fungsi Komunitas Topi Bambu yang di
embannya.
Berbagai
jenis topi bambu sengaja disimpan di atas meja saat kami berbincang. Dari
yang setengah jadi hingga siap jual. Begeng mulai berbicara soal komunitasnya.
Komuntas ini lahir dari perkumpulan blogger yang berdomisili di
Tangerang. Mereka memiliki kekhawatiran akan punahnya topi bambu yang
dulu merajai Paris, Francis. “Setelah kita tahu dizaman penjajahan Belanda topi
bambu itu dulu ternyata sempat diexport
ke Eropa dan Asia Timur dan menguasai pasar. Topi ini dipake Tentara Belanda,
bahkan di Paris sampai dipake buat mode.” Pungkas Begeng melirih. Dari
situ lahir Komunitas Topi Bambu pada 27 Februari 2011 yang diprakarsai oleh Agus Hasanudin, Andi Sakab, Moh. Arif Widarto, Muhammad Ramy Dhia Humam, Rizki Nugroho Destrian.
Menjual
sekaligus memperkenalkan kembali topi bambu dan produk lain seperti sandal, tas
hingga tatak yang berbahan dari bambu ikut dipasarkan secara online. Itu merupakan fungsi utama
komunitas ini. Bukan hanya produk berbahan bambu, pun segala produk hasil Usaha
Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Ini bertujuan untuk menggerakkan UMKM yang ada
di Tangerang, karena menurutnya UMKM di Tangerang belum ada yang bisa
dibanggakan.
Perlu
ketelatenan dalam membuat kerajinan berbahan dasar bambu, salah satunya
pembuatan topi bambu yang menjadi icon
kota Tangerang bahkan menjadi logo Kabupaten Tangerang. Setiap bambu dipotong
satu meter dan diiris sedemikian tipis hingga menjadi ilaban. Kemudian dianyam
dan jadilah sebuah topi bambu. “Bambu yangg diiris jadi ilaban, itu yang
menjadi kendala. Sampai sekarang belum ada mesin yang bisa istilahnya masukin
bambu kemudian keluar jadi helaian ilaban. Kita memang masih manual, makannya
lama. Karena itu bener-bener dikatakan handmade”
jelas Begeng.
Segmentasi
pasar menentukan jumlah topi yang diproduksi, misalnya topi pramuka yang memang
dikenakan oleh mayoritas anak sekolah dasar dari Sabang sampai Merauke.
Diproduksinya pun hingga delapan ribu kodi. Selain itu pemproduksian terfokus
pada topi yang sudah ada modelnya, salah satunya model topi Ratu Elizabeth.
Untuk saat ini, topi dipasarkan di lokal Tangerang, paling jauh diexport ke Medan, Pontianak dan Bali.
Dalam
pergerakannya, komunitas ini memiliki motto “Helpful Community” komunitas yang
membantu UKM yang belum bisa melakukan penjualan secaran online. ”jadi, komunitas ini saling membantu
lah, misalnya ada UKM ranginang atau dodol, kita ngobrol dengan pengusahanya,
kemudian kita liput selanjutnya kita posting
di website” tuturnya lagi. Bukan hanya itu, kerjasama pun di
galakkan, salah satunya dengan Himpunan Mahasiswa Tangerang dalam pendirian
Kampung Topi Bambu di daerah Jambe, mereka juga bekerjasama dengan Telkom untuk
masalah pembiayaan.
Ditengah
geliat menaikkan eksistensi topi bambu, terbesit kekhawatiran akan pengrajin
yang semakin berkurang, karenanya Begeng berharap diadakan pelatihan membuat
kerajinan bambu di sekolah-sekolah , “hanya kita terbatas oleh biaya
dan orangnya, ya kita susah juga. Jadi Cuma impian sementara saja. Kita
bisa jadi mentor ekstra kulikuler disekolah, ngajarin menganyam.” Harap Begeng. Kekhawatiran itu terbukti
dengan penolakkan tawaran dari pengusaha asal Hongkong pada akhir 2013, pihak
Hongkong meminta topi bambu berukuran besar diexport satu kontainer perbulannya. Tawaran itu mereka tolak, karena
Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang memadai dan sudah lansia. Ditambah
tempat tinggal pengrajin yang kini digusur oleh para makelar tanah.
Untuk
memasukkan produk diperdagangan bebas pun masih ragu dengan alasan SDM yang
kurang mampu memproduksi barang lebih bagus dengan jumlah banyak “Kalo topi pramuka bisa diexport, gak masalah,
masalahnya mereka pake topi pramuka seperti ini gak?” seloroh Begeng. Dalam waktu dekat
kita mau ikut acara-acara lokal, seperti di
kampus saya ada karnaval selama seminggu, yang penting kita memperkenalkan dulu
kemasyarkat” pungkasnya.
Disisi
lain, komunitas ini berhasil menggaet banyak penghargaan, salah satunya
pada 7 Agustus 2011 Komunitas Topi Bambu ini memboyong Rekor Muri dengan
topi terbesar berdiameter dua meter. “Rekor muri ini kita sama sekali tidak
mengeluarkan modal, malah gak nyangka kita didukung oleh ibu menteri untuk
mecahin rekor, setahu saya untuk biaya rekor murinya aja sampai puluhan juta
rupiah” pungkasnya lagi.
Begeng
berharap, topi bambu yang sudah kita
kembalikan lagi seperti
ini punya pasar yang
layak. “Syukur-syukur bisa export. Memang harapan kita kedepannya ke sana. Selanjutnya, UKM se-Tangerang itu bisa
melek tekhnologi. Kita juga
mengharapkan lebih banyak anggota, kita udah sebar form pendaftaran dan ternyata susah banget nyari anggota, kalo komunitas motor mudah ngajak anggotanya, tapi
kalo komunitas kayak kita, susah bener”. Seloroh Begeng. Selasa 29/7/2014.