Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Januari 2015

BCC Siapkan Ecohouse untuk Korban Longsor

Ilustrasi ecohouse. (trisnatn.blogspot.com)


Banten Creative Community (BCC) siapkan ecohouse bagi korban longsor di Desa Cirompang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak.

"Program ecohouse berupa rumah dengan 90% berbahan bambu. Rencananya akan ada puluhan ecohouse yang akan dibangun dan ditargetkan rampung sebelum akhir November 2015." Papar Presiden BCC, Usep Mujani di Serang, Rabu.

Ia menambahkan bahwa rencana rampungnya proyek ecohouse pada November Mendatang. "Target akan dilaunching pada 26 November 2015 nanti bersamaan dengan Hari Bambu Nasional." Tambahnya.

Rencananya bambu dipasok dari Desa Cirampong di bawah kelola BCC cabang Cirompang. Saat ini bambu yang akan digunakan sedang dipersiapkan. Bambu setelah ditebang yang kemudian akan digunakan harus melalui pengeringan, direndam dan disemprot dengan cairan pestisida.

Proses tersebut bertujuan agar bambu terhindar dari serangga sehingga dapat bertahan puluhan tahun.


Selain itu diyakini bahwa bambu dapat mencegah pencemaran lingkungan dan kerusakan hutan. "Ecohouse bersifat mencegah dan menjaga bila terjadi longsor." Kata Usep.

Itu disebabkan akar yang sangat solit sehingga mampu menyimpan cadangan air dan mencegah erosi.


Dewan Pendiri dan dan Pembina BCC, Firdaus Gozali mengatakan dibangunnya konstruksi rumah berbahan bambu di Desa Cirompang sekaligus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk kembali ke alam. "Bahan-bahan konstruksi dan lainnya didapat dari alam." Paparnya di Serang, Rabu.

Berbagai kalangan masyarakat ikut andil dalam proyek ini. Usep kembali mengatakan bahwa untuk merealisasikan proyek itu mereka mengandalkan swadaya masyarakat dan lingkungan sekitar. "Adapun pemerintah setempat telah memberi bantuan berupa sembako kepada korban longsor." Ujar Usep.

Proses pembangunan ecohouse baru sampai pada pengajuan perizinan menggunakan lahan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Lebak, Banten.


Sementara ini untuk mengawali pembangunan, tambah Usep, BCC masih menunggu kesiapan lahan dari Pemda Lebak, Banten. "Senin kemarin kami baru audiensi dengan Pemda soal perizinan lahan itu." Katanya.

Tujuan program BCC yakni mengkampanyekan kembali kepada masyarakat untuk menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam, salah satunya bambu.

"Walaupun menggunakan bambu harus didasari tanggungjawab, kalu berani menebang, harus berani menanam." Pungkas Firdaus.

Selasa, 29 Juli 2014

Comunity Helpful Komunitas Topi Bambu


Agus Hasanudin (Kang Gugus), pendiri Komunitas Topi Bambu memegang piagam penghargaan Rekor Muri berkat jasanya membudidayakan kembali kerajinan berbahan dasar bambu. Senin 30/6/2014. (Foto: Dede Lukman Hakim)

Cuaca lembab tidak menghentikan Agung datang ke galery di pinggir Jalan Raya Serang KM 15, RT 01/01 No. 170, Desa Cikupa, Kec. Cikupa, Kab. Tangerang - Banten. Lelaki yang acapkali dipanggil “Begeng” itu seorang anggota komunitas topi bambu sekaligus mahasiswa. Bersama temannya menggerilyakan kerajinan yang terbuat dari bambu. Berusaha mengembalikan keberadaan topi bambu yang hampir punah sebagai ciri khas Kabupaten Tangerang. Di dalam galery, puluhan topi bambu berbagai jenis dan ukuran bertengger di tembok. Ada juga yang dijajakkan di atas meja menemani obrolan kami menyoal fungsi Komunitas Topi Bambu yang di embannya. 

Berbagai jenis topi bambu sengaja disimpan di atas meja saat kami berbincang. Dari yang setengah jadi hingga siap jual. Begeng mulai berbicara soal komunitasnya. Komuntas ini lahir dari perkumpulan blogger yang berdomisili di Tangerang.  Mereka memiliki kekhawatiran akan punahnya topi bambu yang dulu merajai Paris, Francis. “Setelah kita tahu dizaman penjajahan Belanda topi bambu itu dulu ternyata sempat diexport ke Eropa dan Asia Timur dan menguasai pasar. Topi ini dipake Tentara Belanda, bahkan di Paris sampai dipake buat mode.”  Pungkas Begeng melirih. Dari situ lahir Komunitas Topi Bambu pada 27 Februari 2011 yang diprakarsai oleh Agus Hasanudin, Andi Sakab, Moh. Arif Widarto, Muhammad Ramy Dhia Humam, Rizki Nugroho Destrian.

Menjual sekaligus memperkenalkan kembali topi bambu dan produk lain seperti sandal, tas hingga tatak yang berbahan dari bambu ikut dipasarkan secara online. Itu merupakan fungsi utama komunitas ini. Bukan hanya produk berbahan bambu, pun segala produk hasil Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Ini bertujuan untuk menggerakkan UMKM yang ada di Tangerang, karena menurutnya UMKM di Tangerang belum ada yang bisa dibanggakan.

Perlu ketelatenan dalam membuat kerajinan berbahan dasar bambu, salah satunya pembuatan topi bambu yang menjadi icon kota Tangerang bahkan menjadi logo Kabupaten Tangerang. Setiap bambu dipotong satu meter dan diiris sedemikian tipis hingga menjadi ilaban. Kemudian dianyam dan jadilah sebuah topi bambu. “Bambu yangg diiris jadi ilaban, itu yang menjadi kendala. Sampai sekarang belum ada mesin yang bisa istilahnya masukin bambu kemudian keluar jadi helaian ilaban. Kita memang masih manual, makannya lama. Karena itu bener-bener dikatakan handmade” jelas Begeng.

Segmentasi pasar menentukan jumlah topi yang diproduksi, misalnya topi pramuka yang memang dikenakan oleh mayoritas anak sekolah dasar dari Sabang sampai Merauke. Diproduksinya pun hingga delapan ribu kodi. Selain itu pemproduksian terfokus pada topi yang sudah ada modelnya, salah satunya model topi Ratu Elizabeth. Untuk saat ini, topi dipasarkan di lokal Tangerang, paling jauh diexport ke Medan, Pontianak dan Bali.

Dalam pergerakannya, komunitas ini memiliki motto “Helpful Community” komunitas yang membantu UKM yang belum bisa melakukan penjualan secaran online. ”jadi, komunitas ini saling membantu lah, misalnya ada UKM ranginang atau dodol, kita ngobrol dengan pengusahanya, kemudian kita liput selanjutnya kita posting di website” tuturnya lagi. Bukan hanya itu, kerjasama pun di galakkan, salah satunya dengan Himpunan Mahasiswa Tangerang dalam pendirian Kampung Topi Bambu di daerah Jambe, mereka juga bekerjasama dengan Telkom untuk masalah pembiayaan.

Ditengah geliat menaikkan eksistensi topi bambu, terbesit kekhawatiran akan pengrajin yang semakin berkurang, karenanya Begeng berharap diadakan pelatihan membuat kerajinan bambu di sekolah-sekolah , “hanya kita terbatas oleh biaya dan orangnya, ya kita susah juga. Jadi Cuma impian sementara saja.  Kita bisa jadi mentor ekstra kulikuler disekolah, ngajarin menganyam.” Harap Begeng. Kekhawatiran itu terbukti dengan penolakkan tawaran dari pengusaha asal Hongkong pada akhir 2013, pihak Hongkong meminta topi bambu berukuran besar diexport satu kontainer perbulannya. Tawaran itu mereka tolak, karena Sumber Daya Manusia (SDM)  yang kurang memadai dan sudah lansia. Ditambah tempat tinggal pengrajin yang kini digusur oleh para makelar tanah.

Untuk memasukkan produk diperdagangan bebas pun masih ragu dengan alasan SDM yang kurang mampu memproduksi barang lebih bagus dengan jumlah banyak “Kalo topi pramuka bisa diexport, gak masalah, masalahnya mereka pake  topi pramuka seperti ini gak?” seloroh Begeng. Dalam waktu dekat kita mau ikut acara-acara lokal, seperti di kampus saya ada karnaval selama seminggu, yang penting kita memperkenalkan dulu kemasyarkat” pungkasnya.
Disisi lain, komunitas ini berhasil menggaet banyak penghargaan, salah satunya  pada 7 Agustus 2011 Komunitas Topi Bambu ini memboyong Rekor Muri dengan topi terbesar berdiameter dua meter. “Rekor muri ini kita sama sekali tidak mengeluarkan modal, malah gak nyangka kita didukung oleh ibu menteri untuk mecahin rekor, setahu saya untuk biaya rekor murinya aja sampai puluhan juta rupiah” pungkasnya lagi.

Begeng berharap, topi bambu yang sudah kita kembalikan lagi seperti ini punya pasar yang layak. “Syukur-syukur bisa export. Memang harapan kita kedepannya ke sana. Selanjutnya, UKM se-Tangerang itu bisa melek tekhnologi. Kita juga mengharapkan lebih banyak anggota, kita udah sebar form pendaftaran dan ternyata susah banget nyari anggota, kalo komunitas motor mudah ngajak anggotanya, tapi kalo komunitas kayak kita, susah bener”. Seloroh Begeng. Selasa 29/7/2014.






luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com