Jumat, 27 Juni 2014

Berakit Kehulu Berenang Ketepian


Sinar matahari begitu menyengat, para kuli bangunan pun tak hentinya bersolek mempercantik bangunan yang baru kerangka itu. Seakan matahari marah, membakar kulit sang tua yang tengah berjongkok mengamati jalannya pembangunan di atas sebidang lahan di samping rumahnya. Dia tidak memerintah karena bukan mandor, tak pula bekerja seperti kuli-kuli bangunan itu.  Dia adalah Ukat Sukatma, saksi hidup si Kampus Hijau.

Ketika disapa, terlihat bibir tersenyum lebar dan matanya sayup mengajak saya beranjak masuk ke dalam rumahnya. Tampak lengang dan berdampingan dengan kerangka bengunan barunya. Kami duduk seraya bersila berhadapan kemudian diajaknya menilik masa lalu di tahun 1968. Tahun dimana lahirnya kampus berlebelkan islam dengan nama IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sukabumi, kota kelahirannya dia tinggalkan untuk merantau ke kota kembang dan tinggal seatap bersama MB Hidayatulloh, seorang dosen ketika IAIN bediri di Dago. Enam tahun lamanya ukat gelagapan menstabilkan isi perut dengan profesinya sebagai ahli bangunan. Tahun ’68, tepatnya tahun pertama UIN berdiri dengan nama IAIN SGD Bandung sebuah tawaran menghampirinya

“wat (nama panggilan Ukat), kersa damel di IAIN?, upami kersa sok kaditukeun serat, ka IAIN” tawar hidayatulloh.
 ”palih mana?”, tanya Ukat
“di Lengkong Kecil No.5”. jawab Hidayatulloh

Tak berpikir lama, Ukat menerima tawaran itu dan segera menyerahkan surat dari Hidayatulloh kepada Adnan, Sekertaris Aljamiah. Setelah surat diterimanya, Ukat mulai bekerja esok harinya sebagai honorer yang memastikan kebersihan dan kerapian setiap koridor kelas.

Gaji pertamanya 500 perak per bulan ditambah jarak 5 Km dari tempat tinggalnya di Dago ke kampus, Ukat tak patah arang meski berjalan kaki dan harus sampai ke kampus tidak lebih dari pukul 6 pagi. “Da bapa mah jalmi teu gaduh,”  sebenarnya Ukat bisa naik oplet untuk sampai ke kampus dengan ongkos serupiah, itu pun jika ada uang tambahan, jika tidak, terpaksa jejakkan kakinya lebih banyak.

“Tilu sasih teh Pur manuk”, ucap Ukat. Diterimanya upah seratus persen jika tidak dipotong jatah makan. Terpaksa saat itu ukat lebih sering membiarkan perutnya mengempis, dari pada gajinya yang mengempis. Saban waktu, mahasiswa pun tak segan mengulurkan tanganya lewat jendela kelas, memberikan makanan saat dia tengah bekerja.

Tiga bulan berakhir, Ukat dapatkan mutasi ke gedung rektorat, pur manuk tak lagi dia rasakan, makan minum tak lagi menjadi penat di pikiran. Selain menyajikan makanan-minuman bagi birokrat, bagi dirinya pula tak dia lupakan. Semua tinggal dia sajikan sendiri di dapur kantor rektorat.

Dedikasinya tak kunjung henti dia terapkan pada setiap profesi yang diembannya, mengantarkan surat ke sana-sini, menjaga kebersihan kantor sudah pasti , hingga menyiapkan air minum tak pernah lengah, setiap pagi disajikannya segelas air teh di atas meja kerja birokrat, saban waktu dia perhatikan isi gelas itu karena merupakan  sebagian dari tanggung jawabnya memastikan gelas selalu terisi penuh.

Rentetan Kemelut  
Warna-warni kemelut  pekerjaannya, setelah mengantarkan surat ke luar, tepatnya pukul 13.00 setelah solat jumat, dalam perjalanan kembali ke kampus dengan mengendarai sepeda, ketika menyebrangi jalan tak ada kekhawatiran apalagi terpikirkan, justru sedang dalam kenikmatan mengayu pedal di tengah keramaian jalan.

Tiba-tiba saja ketegangan menyapanya setelah roda motor yang melaju kencang menyambar nya, ribuan mata melotot panik di tempat kejadian itu, dia mulai tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit Ranca Badak. Pukul 17.00 barulah kembali sadar, tak lama kemudian ada kabar bahwa bibinya harus dirawat inap, dia kembali tak sadarkan diri hingga pukul 24.00. Selama dua hari Ukat baru diperbolehkan pulang.
Setelah kesehatannya pulih, terlintas kerinduan kepada ayahnya di Sukabumi, segera dia meminta izin tidak bekerja kepada rektor untuk mengunjungi orang tuanya di sana. Sesampainya di Sukabumi, suka duka menyambut kedatangannya, suatu waktu Ukat melihat genangan air mata ibunya karena kedatangan putra lelakinya, di waktu lain, Ukat melihat linangan air mata ibunya karena memberitakan bahwa ayah yang mau ditemuinya telah meninggal, “bapak ti dinya sedih dikantunkeun ku rama” ungkapnya tersedu-sedu. Tak lama dia di sana dan segera kembali ke Bandung.

Ukat kembali bekerja dengan jadwal kerja seperti biasa dan pekerjaan yang saban harinya biasa dia lakukan, terkecuali hatinya yang tidak biasa dia rasakan pasca ayahnya meninggal. Tak lama kemudian datang surat yang mengabarkan ibunya di Jakarta sedang sakit parah dan memintanya datang ke sana.“ari bapa teh gaduh ibu kawalon, ibu aslimah di Jakarta, ibu kawalon mah di Sukabumi” ungkapnya lagi sambil menghela nafas. Izin tidak bekerja dia mohonkan kembali kepada rektor dan rektor menyetujuinya.

Setelah itu pergilah Ukat ke Jakarta untuk menengok ibunya yang terkujur kaku, namun dia tetap tak bisa lama-lama di sana karena ada tanggung jawab di kampus yang tidak bisa ditinggalkan lama-lama. Maka kembalilah dia ke Bandung dengan bekal amanat dari ibunya, yaitu jaga tangan, jaga mata dan sering membaca surat yasin. Selang beberapa hari, datang  lagi surat dari Jakarta yang memberitakan bahwa ibunya telah meninggal. Tak kuasa dia membendung kesedihan yang sebelumnya pernah dialami kemudian datang kembali. Ukat menjadi seorang yatim piatu.

Lutut keluar dari persendian pun pernah Ukat alami dalam mengemban pekerjaannya. ketika dia harus mengantarkan surat kepada Makmun (salah satu birokrat IAIN SGD Bandung) di Cigending, di perjalanan Ukat menginjak sebuah tumpukan yang dikiranya bekas pembakaran sampah yang sebenarnya adalah lubang, maka terjerumuslah dia ke dalam lubang itu, akibatnya Ukat tak mampu berdiri sendiri, sampai ke Cigending pun diboyong oleh tiga orang santri Suka Miskin yang kebetulan lewat sana. Sesampainya di tempat tujuan, Ukat belum merasakan sakit. Pukul 1 malam, sakit mulai dirasakannya sampai dia berteriak histeris “mang tong jejeritan! Keun baé - keun baé, abdi isukan anu laporan ka rektor dua”,  makmun menenangkan.

Habis Gelap Terbitlah Terang
Tahun 1974, ukat yang disambar badai kini mendapatkan pelangi. Berpindahnya IAIN SGD Bandung ke Cipadung, bersamaan dengan itu berpindah pula status kepegawaian Ukat menjadi PNS dengan gaji Rp. 4.005 per bulan. Karena tanggung jawab dan dedikasi itu bukan tuntutan atasan melainkan timbul kesadaran tersendiri dalam diri Ukat membuatnya  mendapatkan beberapa tawaran, pertama ajakan Yamin (mantan sekertaris Aljamiah) untuk tinggal di Mesir bersamanya, sebuah tawaran yang sulit ditolak, namun dengan datarnya Ukat menolak tawaran tersebut.

Kedua, ajakan Adnan, yang juga mantan sekertaris Aljamiah “mang, tugas bapa teh seep, ngiring ka Netherland, kersa teu?” seru Ukat menirukan ajakan Adnan. Tawaran itu pun dia tolak. Dua tawaran yang dia tolak karena alasan ketidak mampunya menggunakan bahasa asing. Beda dengan tawaran ketiga ini, tak kuasa dia menolaknya, karena tawaran ini merupakan kesempatan untuk menunaikan rukun islam yang terakhir, yaitu menunaikan ibadah haji.

Rektor memberlakukan ZIS (Zakat, Infak dan Sodakoh) di lingkungan rektorat. Setiap membayar seikhlasnya, hingga pada 2009 diadakanlah rapat seluruh anggota ZIS di rektorat, rektor kala itu merekomendasikan Ukat untuk menunaikan ibadah haji pada 2010, dan semua yang hadir dalam rapat itu menyetujuinya.

Ukat pensiun sekitar tahun ’99 dengan gaji sekitar Rp. 1.200ribu per bulan.Kini Ukat tinggal menikmati hari tuanya bersama keluarga di Sukabumi dengan gaji pensiunan Rp.1.930ribu per bulan dan setiap awal bulan selalu menyempatkan diri datang ke rumah di Cipadung, pinggir kampus.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com