Kamis, 22 Januari 2015

Persoalkan Tarif Angkutan, Supir Angkot Dilema

kaskushootthreads.blogspot.com


Sejumlah supir Angkutan Antar Kota (angkot) di Serang, Banten mengaku bingung antara menerima dan tidaknya keputusan mengenai tarif angkutan. Banyak pertimbangan yang harus diperhatikan seperti biaya operasional perawatan kendaraan.

Presiden Joko Widodo resmi menurunkan harga BBM jenis premiun dari harga Rp. 7.600 menjadi Rp. 6.600 perliter dan solar yang semula Rp. 7.250 menjadi Rp. 6.400 perliter. Keputusan tersebut barlaku Senin (19/1) pukuk 00.00 WIB.

Turunnya harga BBM diikuti turunnya tarif angkutan membuat sejumlah supir angkot dilema. "Kalo BBM turun biaya perawatan mau dari mana. Spare part aja harganya makin naik." Ucap supir angkot, Basuni. Senin (19/1).

Selain itu, kata dia, "masyarakat cenderung ingin bayar ongkos murah, karena saya pun selain supir juga  merasa seorang  penumpang yang ingin bayar murah."

Sebenarnya, besaran tarif angkutan umum tidak hanya dipengaruhi oleh BBM. Nilai tukar rupiah serta inflasi mempengaruhi harga spare part kendaraan. Biaya perawatan kendaraan menjadi pokok permasalahan turun tidaknya tarif angkutan.

Ia menambahkan bahwa tidak  ada kejelasan soal penurunan tarif angkutan karena belum ada keputusan dari pihak terkait. "Hingga saat ini saya belum menerima informasi soal turunnya tarif angkutan." Keluhnya.

Ketua Organda Kota Serang, Emus Mustagfirin belum menurunkan ketatapan tarif angkutan. Sebagaimana dilansir dari antaranews.com , Kamis (8/1) bahwa sampai saat ini pihak organda masih memberlakukan tarif yang naik dari sebelumnya, berkaitan dengan kebijakan pemerintah menaikan harga BBM jenis premium dari Rp6.500 menjadi Rp8.500. Sementara terkait kebijakan pemerintah yang kembali menurunkan harga BBM jenis premium menjadi Rp7.600, pihak organda tetap tidak menurunkan tarif angkutan.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com